Burnout di Kalangan Karyawan Gen Z

Karyawan Gen Z menunjukkan produktivitas tinggi, namun tuntutan kerja yang berlebihan membuat mereka rentan mengalami kelelahan kerja.

Generasi Z sering dipandang sebagai generasi yang gesit, adaptif, dan akrab dengan teknologi. Mereka mampu mempelajari sistem baru dengan cepat, bekerja secara multitasking, dan menyelesaikan tugas dengan efisien. Namun di balik keunggulan tersebut, burnout dapat terjadi pada karyawan Gen Z.

Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja seharian. Kondisi ini merupakan kelelahan ekstrem, baik secara fisik, mental, maupun emosional, akibat stres kerja yang berlangsung terus-menerus. Individu yang mengalami burnout sering merasa hampa, tidak berdaya, kehilangan motivasi, dan mengalami penurunan produktivitas yang signifikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik.

Pada karyawan Gen Z, burnout sering dipicu oleh tuntutan kerja yang dirasakan terlalu tinggi. Beban pekerjaan yang menumpuk, target yang tidak realistis, kurangnya apresiasi dari atasan, lingkungan kerja yang tidak suportif, hingga pekerjaan yang monoton menjadi pemicu utama. Gejala yang muncul pun beragam, mulai dari kelelahan kronis, mudah marah, sulit berkonsentrasi, sikap sinis terhadap pekerjaan, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.

Temuan penelitian terhadap 271 karyawan Gen Z menunjukkan bahwa tuntutan kerja yang tinggi berkaitan erat dengan munculnya burnout (Tambuwun & Sahrani, 2023). Lebih dari setengah responden mengaku merasakan tekanan dalam pekerjaannya, dan hampir sepertiga merasa waktu yang diberikan perusahaan tidak cukup untuk menyelesaikan tugas dengan baik.

Dalam situasi ini, motivasi kerja memegang peran penting. Motivasi yang sehat membantu karyawan Gen Z mengatur ulang prioritas, memahami batas kemampuan diri, serta menjaga makna dari pekerjaan yang dijalani. Selain itu, dukungan emosional dari orang terdekat, komunikasi terbuka di tempat kerja, dan keberanian menetapkan batasan kerja menjadi langkah penting untuk mencegah burnout semakin parah. Perusahaan juga sebaiknya dapat menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan menghargai kesejahteraan psikologis karyawannya.

Sumber Rujukan:
Tambuwun, E. & Sahrani, R. (2023). Hubungan antara tuntutan kerja dan burnout dengan motivasi kerja sebagai moderator pada karyawan kalangan Generasi Z di DKI Jakarta. Journal on Education, vol. 5/2, hal. 3580-3592. DOI: https://doi.org/10.31004/joe.v5i2.1040
Bagikan: