Identitas Digital dan Perbandingan Sosial pada Generasi Z di LinkedIn

Membahas hubungan antara identitas digital dan perbandingan sosial pada Generasi Z pengguna LinkedIn, serta dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis berdasarkan temuan penelitian pada karyawan muda.

Di era teknologi dan media sosial yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, cara seseorang memandang dan menampilkan dirinya pun ikut berubah. Banyak individu kini tidak hanya memiliki identitas di dunia nyata, tetapi juga membangun identitas digital, yakni representasi diri yang terbentuk melalui aktivitas daring. Identitas digital ini menjadi sangat penting, terutama bagi Generasi Z yang sejak kecil sudah akrab dengan internet dan media sosial.

Salah satu platform yang paling sering digunakan oleh Generasi Z adalah LinkedIn. Awalnya dikenal sebagai jejaring profesional, LinkedIn kini juga berfungsi sebagai ruang untuk membangun citra diri. Pengguna berlomba-lomba menampilkan pencapaian, pengalaman kerja, sertifikasi, hingga aktivitas produktif lainnya. Tanpa disadari, tampilan profil yang serba “ideal” ini dapat menciptakan standar keberhasilan tertentu.
Masalah muncul ketika individu mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.

Paparan berulang terhadap profil yang terlihat lebih sukses, lebih mapan, atau lebih menarik dapat memicu social comparison atau perbandingan sosial. Individu kemudian menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain, yang sering kali ditampilkan secara selektif dan tidak sepenuhnya mencerminkan realitas.

Perbandingan sosial yang terus-menerus ini tidak jarang berdampak pada kesejahteraan psikologis. Perasaan kurang mampu, tidak cukup berhasil, atau tertinggal dari rekan sebaya dapat muncul dan memengaruhi kepercayaan diri. Penelitian terhadap 404 karyawan Generasi Z pengguna LinkedIn berusia 18–25 tahun menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara identitas digital dan kecenderungan melakukan perbandingan sosial (Sahrani et al., 2026).

Kesimpulannya, meskipun LinkedIn memberikan banyak manfaat sebagai sarana pengembangan karier dan jejaring profesional, penggunaannya juga perlu disikapi secara bijak. Generasi Z perlu menyadari bahwa identitas digital yang ditampilkan di media sosial sering kali merupakan versi terbaik dari diri seseorang, bukan gambaran utuh kehidupan mereka. Dengan kesadaran ini, perbandingan sosial dapat diminimalkan, sehingga media sosial tetap menjadi alat yang memberdayakan, bukan sumber tekanan psikologis.

Sumber Rujukan:
Sahrani, R., Setiawan, C. D., Chandra, C., Harto, I. R., & Putri, R. A. (2026). Moderasi kebijaksanaan dalam hubungan identitas digital dan perbandingan sosial pada Generasi Z pengguna LinkedIn. Cendikia: Jurnal Ilmu Pengetahuan, vol. 6/1, hal. 1-10. DOI: https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i1.8256
Bagikan: