Kesiapan kerja generasi muda sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengambil keputusan karier secara mandiri.
Persaingan di dunia kerja saat ini kian ketat. Di sisi lain, tingkat pengangguran pada generasi muda masih menjadi persoalan serius. Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang merasa cemas, ragu, bahkan bingung ketika harus melangkah ke dunia kerja yang sesungguhnya.
Salah satu persoalan utama yang sering luput disadari adalah kurangnya kesiapan dalam mengambil keputusan karier. Banyak mahasiswa baru mulai memikirkan masa depan kariernya menjelang kelulusan, padahal proses ini seharusnya dimulai jauh sebelumnya. Idealnya, pilihan karier sudah mulai dipertimbangkan sejak masa kuliah awal, sehingga mahasiswa memiliki cukup waktu untuk mengenali diri, minat, serta peluang yang tersedia.
Pada kenyataannya, jurusan kuliah tidak selalu sejalan dengan karier yang akhirnya dipilih. Hal ini bukan sesuatu yang keliru, tetapi menuntut adanya kemandirian dalam pengambilan keputusan karier. Mahasiswa perlu aktif mencari informasi, melakukan observasi, berdiskusi dengan orang-orang yang telah menekuni bidang yang diminati, serta berani mencoba pengalaman langsung, misalnya melalui pekerjaan paruh waktu, magang, atau kegiatan relawan.
Proses ini membantu mahasiswa memahami dunia kerja secara lebih nyata, bukan hanya dari teori atau bayangan semata. Dengan demikian, keputusan karier yang diambil bukan sekadar ikut tren atau tekanan lingkungan, melainkan hasil dari pemahaman dan pertimbangan pribadi yang matang.
Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian terhadap 301 mahasiswa tingkat akhir yang menunjukkan bahwa kemandirian dan kemampuan mengambil keputusan karier berperan besar dalam kesiapan kerja, dengan kontribusi mencapai 65,4% (Harto & Sahrani, 2026). Temuan ini menegaskan bahwa kesiapan kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kematangan psikologis dalam menentukan arah karier.
Sumber Rujukan:
Harto, I. R. & Sahrani, R. (2026). Kontribusi kemandirian dan pengambilan keputusan karir dalam kesiapan kerja mahasiswa tingkat akhir. Paedagogy: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, vol. 6/1, hal. 195-204. https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy
Salah satu persoalan utama yang sering luput disadari adalah kurangnya kesiapan dalam mengambil keputusan karier. Banyak mahasiswa baru mulai memikirkan masa depan kariernya menjelang kelulusan, padahal proses ini seharusnya dimulai jauh sebelumnya. Idealnya, pilihan karier sudah mulai dipertimbangkan sejak masa kuliah awal, sehingga mahasiswa memiliki cukup waktu untuk mengenali diri, minat, serta peluang yang tersedia.
Pada kenyataannya, jurusan kuliah tidak selalu sejalan dengan karier yang akhirnya dipilih. Hal ini bukan sesuatu yang keliru, tetapi menuntut adanya kemandirian dalam pengambilan keputusan karier. Mahasiswa perlu aktif mencari informasi, melakukan observasi, berdiskusi dengan orang-orang yang telah menekuni bidang yang diminati, serta berani mencoba pengalaman langsung, misalnya melalui pekerjaan paruh waktu, magang, atau kegiatan relawan.
Proses ini membantu mahasiswa memahami dunia kerja secara lebih nyata, bukan hanya dari teori atau bayangan semata. Dengan demikian, keputusan karier yang diambil bukan sekadar ikut tren atau tekanan lingkungan, melainkan hasil dari pemahaman dan pertimbangan pribadi yang matang.
Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian terhadap 301 mahasiswa tingkat akhir yang menunjukkan bahwa kemandirian dan kemampuan mengambil keputusan karier berperan besar dalam kesiapan kerja, dengan kontribusi mencapai 65,4% (Harto & Sahrani, 2026). Temuan ini menegaskan bahwa kesiapan kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kematangan psikologis dalam menentukan arah karier.
Sumber Rujukan:
Harto, I. R. & Sahrani, R. (2026). Kontribusi kemandirian dan pengambilan keputusan karir dalam kesiapan kerja mahasiswa tingkat akhir. Paedagogy: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, vol. 6/1, hal. 195-204. https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy
Bagikan: